Angka Kasus Kekerasan Seksual Naik 14% Per Tahun
Tapi Jutaan Korban Masih
Sembunyi.
Mengapa Melapor Terasa Lebih Menyakitkan Daripada Diam?
Halaman ini berisi pembahasan tentang kekerasan seksual yang mungkin memicu respons emosional. Kamu bisa berhenti kapan saja. Gunakan tombol "Keluar Cepat" di pojok kanan bawah jika diperlukan.
Selama 2 tahun terakhir, saya menjadi saksi langsung bagaimana korban kekerasan seksual — terutama anak di bawah umur — lebih takut melapor daripada memendam luka mereka. Platform ini lahir dari pengalaman nyata saya di lapangan, bukan dari teori.
Menjadi jembatan aman bagi korban yang takut melapor ke polisi atau PPA karena trauma victim blaming, tekanan finansial, maupun rumitnya proses hukum. Saya hadir untuk mendengarkan tanpa menghakimi dan mendampingi dengan pendekatan yang realistis — kecuali jalur hukum formal memang sangat dibutuhkan oleh korban sendiri.
Membangun ruang di mana setiap korban — terutama anak di bawah umur — merasa cukup aman untuk bercerita dan mendapat pertolongan nyata tanpa harus melewati kekakuan birokrasi yang justru memperburuk trauma mereka.
Aman, realistis, dan jujur. Tiga kata yang menjadi fondasi setiap pendampingan saya. Tidak ada janji palsu, tidak ada proses yang mempermalukan korban. Setiap langkah diputuskan bersama korban, bukan untuk mereka.
Perjalanan Saya
Memulai semuanya sebagai relawan yang membuka layanan bantuan 100% gratis melalui platform TikTok — hanya bermodalkan niat untuk mendengarkan dan membantu korban yang tidak tahu harus ke mana.
Dalam waktu 2 tahun, saya telah menangani lebih dari 100 kasus kekerasan seksual. Dari anak di bawah umur hingga dewasa, dari kasus dalam rumah tangga hingga lingkungan sekolah.
Saya memilih pendekatan yang aman, realistis, dan jujur — karena birokrasi formal seringkali membuat korban merasa semakin takut, tertekan secara finansial, dan terpuruk secara mental. Banyak korban yang justru bungkam setelah mencoba jalur resmi.
Menjadi jembatan bagi mereka yang takut melapor ke polisi atau PPA karena trauma victim blaming atau rumitnya proses hukum. Jalur formal tetap menjadi opsi — tapi hanya jika korban sendiri yang memilih dan siap untuk itu.
Ada banyak cara untuk mendukung perjuangan ini — mulai dari menjadi relawan, melapor, menyebarkan kesadaran, hingga memberikan dukungan finansial.
Bergabunglah dengan jaringan relawan kami. Kami butuh psikolog, pengacara, konselor, fotografer, desainer, dan banyak lagi.
Jika kamu atau seseorang yang kamu kenal menjadi korban, kami siap mendengarkan dan mendampingi secara rahasia dan aman.
Bagikan cerita, fakta, dan kampanye kami di media sosial. Suaramu adalah kekuatan yang menggerakkan perubahan nyata.
Bergabunglah dengan gerakan advokasi kami untuk mendorong implementasi UU TPKS dan perlindungan hak korban yang lebih kuat.
Tidak ada pertanyaan yang terlalu kecil, tidak ada cerita yang terlalu berat. Tim kami terdiri dari profesional terlatih yang siap mendampingimu dengan aman dan rahasia.
Jl. Kebenaran No. 12, Menteng
Jakarta Pusat, 10310
🔒 Jaminan Kerahasiaan
Semua komunikasi bersifat rahasia sepenuhnya. Identitas dan
ceritamu tidak akan pernah kami bagikan tanpa persetujuanmu.
Kami akan merespons dalam 1×24 jam pada hari kerja.
100% donasi yang masuk digunakan langsung untuk program pendampingan, bantuan hukum, dan pemulihan psikologis bagi korban.
Membantu satu sesi konseling psikologis untuk seorang korban yang membutuhkan.
Mendukung pendampingan lengkap selama satu bulan — psikologis, hukum, dan sosial.
Membiayai operasional satu titik layanan di daerah terpencil selama satu bulan penuh.
Menjadi mitra strategis dan mendapatkan laporan dampak langsung dari program kami.
Ingin berdonasi dengan jumlah lain?
Silent Cry Project adalah inisiatif personal yang
100% dijalankan secara independen. Seluruh donasi digunakan langsung untuk pendampingan dan pemulihan korban
kekerasan seksual.
Transfer ke BCA 123-456-7890 a.n. Silent Cry Project.
Halaman ini berisi pembahasan tentang kekerasan seksual yang mungkin memicu respons emosional. Kamu bisa berhenti kapan saja.
Setiap cerita di bawah ini adalah suara nyata dari mereka yang pernah saya dampingi. Nama dan identitas disamarkan sepenuhnya demi keselamatan dan kenyamanan penyintas.
Aku nggak pernah cerita ke siapa pun karena takut dibilang cari perhatian. Tapi waktu pertama kali chat kak, aku ngerasa didengar. Baru kali ini ada yang percaya sama aku tanpa nanya "kok kamu diem aja?"
Saya sudah coba lapor ke pihak berwajib, tapi prosesnya bikin saya merasa jadi pelaku. Di sini saya akhirnya bisa bicara tanpa dihakimi. Pendekatan yang aman dan jujur — itu yang saya butuhkan sejak awal.
Yang bikin beda, kakak nggak pernah maksa aku buat lapor kalau aku belum siap. Aku dikasih waktu, dikasih ruang. Itu hal yang nggak pernah aku dapat dari orang lain.
Saya seorang ibu yang anaknya jadi korban. Saya bingung harus kemana, prosedur hukum terasa menakutkan. Tapi kakak mendampingi kami dengan sabar, tanpa janji-janji palsu. Terima kasih sudah jadi jembatan kami.